• Senin, 20 September 2021

Pengertian Shalat menurut Syekh Zainuddin Al-Malibari di kitab Fathul Muin

- Rabu, 8 September 2021 | 11:12 WIB
Fathul Muin
Fathul Muin

Bogor Times - Shalat menurut istilah Syara' ialah Beberapa ucapan dan perbuatan tertentu, yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Perbuatan tersebut disebut "shalat", karena mengandung makna. "shalat" menurut arti bahasanya, yaitu "do'a".

Shalat Fardlu 'Ain itu lima kali (Waktu) selama satu hari satu malam, yang diketahui dengan pasti dari penjelasan agama. Karena itu, orang yang menentangnya di hukumin Kafir.

Shalat fardlu yang lima ini berkumpul semuanya sebagai kesatuan hanya pada ajaran yang di bawa oleh Nabi Muhammad saw. Kefardluan shalat yang lima itu diturunkan pada malam Isro', malam 27 bulan Rajab 10 tahun 3 bulan terhitung semenjak Muhammad diangkat menjadi Rasul. Shalat Shubuh tanggal 27 Rajab tersebut tidak wajib dikerjakan, karena belum diketahui cara-cara mengerjakannya.

Shalat Maktubah lima waktu itu wajib dikerjakan hanya oleh setiap orang muslim yang mukallaf -yaitu yang telah sampai baligh, berakal sehat-, lelaki atau bukan yang suci.

Maka shalat tidak diwajibkan atas orang Kafir asli, orang gila, sedang ayan, dan sedang mabuk yang keduanya bukan akibat main - main. Hal itu karena mereka tidak terkena beban agama; dan tidak diwajibkan pula atas perempuan yang sedang menstruasi dan nifas, karena itu shalat yang mereka kerjakan tidak sah, dan mereka pun tidak wajib mengqodlo'nya.

Baca Juga: Mengenal Ulama Tatar Sunda Asal Cianjur KH Soheh Bunikasih,Sabahat syekh Nawawi Al Bantani

Tetapi shalat tetap diwajibkan atas orang murtad dan orang yang mabuk akibat main-main. Orang muslim mukallaf yang Suci, apabila dengan sengaja menunda shalat fardlu hingga melewati waktu penjama'annya, ia malas melakukannya sedang berkeyakinan bahwa shalat itu wajib di kerjakan, kemudian disuruh ber taubat dan ia tidak mau bertaubat, maka dikenakan hadd (=pidana) pancung leher.

Menurut pendapat bahwa menyuruh bertaubat itu sunnah tidak wajib, maka pemancung leher orang yang menunda shalat seperti di atas sebelum bertaubat adalah tidak dikenakan pidana. Tetapi pemancung itu telah menjalankan dosa.

Orang yang meninggalkan shalat karena menentangnya sebagai kewajiban, di hukumi dibunuh sebagai orang kafir. Ia tidak perlu dimandikan dan tidak pula dishalatí.

Halaman:

Editor: Muhammad Syahrul Mubarok

Tags

Terkini

Hikmah Surat Al alaq

Senin, 20 September 2021 | 12:49 WIB

Bekal Berumah Tangga dari Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari

Minggu, 19 September 2021 | 23:58 WIB

Enam Wasiat Wali Abdal Untuk Seluruh Umat Muslim

Minggu, 19 September 2021 | 23:12 WIB

Sholawat Nariyah, Isi Teks Arab, Latin dan Terjemah

Minggu, 19 September 2021 | 19:54 WIB

Tatacara Bersuci Bagi Penyandang Tuna Netra

Rabu, 15 September 2021 | 07:05 WIB

Syarat Sah Shalat dalam Kitab Fathul Muin

Jumat, 10 September 2021 | 10:15 WIB
X