• Rabu, 27 Oktober 2021

Bagaiman Cara Rasulullah SAW ketika Kesalahan Seorang Hamba Tak Dapat Dimaafkan.

- Selasa, 5 Oktober 2021 | 19:56 WIB
fixabay (fixabay)
fixabay (fixabay)

BogorTimes - Terkait dengan Kesalahan ini, kenyatannya memang tidak mudah menyampaikannya kepada orang yang telah kita sakiti.

Apalagi jika Kesalahan tersebut sebelumnya tidak diketahui orang yang kita sakiti, biasanya dalam bentuk fitnah. Mungkin bukannya maaf yang kita terima tetapi justru Kemarahan dan putus hubungan.

Dalam hal ini, Ulama Tafsir, Profesor Muhammad Quraish Shihab dalam Membumikan Al Qur’an. Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (1999) mengungkapkan doa yang dibaca Nabi Muhammad kala menghadapi situasi di atas. Rasulullah SAW mengajarkan doa: “Ya Allah, sesungguhnya aku memiliki dosa kepada-Mu dan dosa yang kulakukan kepada makhluk-Mu. Aku bermohon Ya Allah, agar Engkau mengampuni dosa yang kulakukan kepada-Mu serta mengambil alih dan menanggung dosa yang kulakukan kepada makhluk-Mu.”

Baca Juga: Membongkar Rahasia Tirakat Nyai Sholichah, Mendawami Shalawat Pada Nasi Yang Dikonsumsi Gus Dur.

Dalam doa Nabi tersebut tersirat bahwa diharapkan dosa-dosa yang dilakukan terhadap orang lain yang telah dimohonkan maaf kepada yang bersangkutan akan diambil alih oleh Allah walaupun yang bersangkutan tidak memaafkannya.

Pengambil alihan tersebut antara lain dengan jalan Allah memberikan kepada yang bersangkutan ganti rugi berupa imbalan kebaikan dan pengampunan dosa-dosanya. Tentu hal ini kembali kepada Allah, Sang Maha Pengendali segala sesuatu. Maaf-memaafkan tidak terlepas dari dampaknya terhadap kehidupan yang luas di tengah masyarakat.

Maaf-memaafkan bukan hanya menjadi tradisi umat Islam di Indonesia tiap Idul Fitri atau Lebaran tiba, tetapi juga dianjurkan dalam syariat Islam dalam mewujudkan makna Idul Fitri itu sendiri, yakni kembali kepada kesucian seperti seorang bayi yang baru terlahir ke alam dunia.

Baca Juga: Tersangkut Kasus Perzinahan, Balon Kepala Desa Mahal Nomor 3 Tetap Lolos Administrasi

Perihal meminta maaf, seseorang membutuhkan sikap ksatria untuk mengakui segala kesalahannya kepada orang lain.

Hal ini berangkat dari diktum bahwa meminta maaf tak semudah memberi maaf. Namun tidak lantas bahwa memberi maaf juga persoalan mudah, karena ia menuntut kelapangan dada untuk menerima maaf orang yang pernah menyakiti hatinya. Perihal ini, Quraish Shihab (1999) menjelaskan, jika merujuk pada Al Qur'an Surat Ali ‘Imran ayat 134, akan ditemukan bahwa seorang Muslim yang bertakwa dituntut atau dianjurkan untuk mengambil paling tidak satu dari tiga sikap dari seseorang yang melakukan kekeliruan terhadapnya, yaitu menahan amarah, memaafkan, dan berbuat baik terhadap orang tersebut;

Halaman:

Editor: Imam Shodiqul Wadi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Obat Maksiat Hati dari Abah Guru Sekumpul

Jumat, 22 Oktober 2021 | 20:32 WIB
X