• Selasa, 5 Juli 2022

Tingkatan Sabar Menurut Syekh Ibnu Abid Dunya

- Rabu, 18 Mei 2022 | 10:40 WIB
Ilustrasi Sabar (Pixabay.com)
Ilustrasi Sabar (Pixabay.com)

Bogor Times-Sudah sejak lama kita mendengar bahwa sabar ada batasnya. Ada saat di mana seseorang boleh membalas kezaliman atasnya atau mengingkari takdir Tuhan terhadapnya. Dampaknya, secara konseptual sah-sah saja bila kezaliman dibalas kezaliman, dan tak terima akan takdir Tuhan.

Padahal, dalam hadits disebutkan, Lâ dharara wa lâ dhirâra, “Tidak boleh ada kezaliman, dan tidak pula membalasnya dengan kezaliman”. Juga, sebuah definisi hadits qudsi, bagi yang tidak akan rela ketetapan Allah, agar mencari Tuhan selain-Nya (jika memang mampu).

Artinya, sabar yang diberi batasan waktu adalah budaya yang dibuat-buat. Ditetapkan tanpa dasar yang jelas. Itu pun, hingga detik ini, kita belum tahu mana batas kesabaran itu.  

Lalu, bagaimana dengan konsep fiqih kita tentang memberi perlawanan kepada siapa pun yang hendak merusak agama, mencerai-beraikan persatuan bangsa, mencelakai, merusak kehormatan, harta, dan lain-lain? hal ini wajib?

Jawabannya, iya. Karena semua itu merupakan karunia yang harus dijaga. Namun, yang penting dicatat bahwa membalas kezaliman berbeda dengan menjaga diri dari kezaliman. Membalas itu, menyimpan dendam dan kebencian. Itulah spirit larangan agama melalui frasa wa lâ dhirâra. Sedangkan menjaga diri adalah implementasi dari amanah Allah subhanahu wa ta'ala kepada kita.  

Kembali ke awal sabar bahwa tanpa batas waktu ini, memiliki tiga tingkat. Hal ini, sebagaimana yang ditulis Syekh Ibnu Abid Dunya (208-281 H) dalam buku sebagai-Shabru wa Tsawâb 'alaihi. Pertama, sabar atas musibah.

Kedua, sabar dalam menjalani ketaatan. Ketiga, sabar atau menahan diri dari laku kemaksiatan. Sabar yang terakhir adalah sabar dengan tingkat tertinggi. Dalam kitab as-Shabru wa Tsawâb 'alaihi (hal. 30), Syekh Ibnu Abid Dunya sebuah sejarah sebuah hadits riwayat Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

  الصَّبْرُ ثَلَاثٌ: فَصَبْرٌ عَلَى الْمُصِيبَةِ، وَصَبْرٌ عَلَى الطَّاعَةِ، وَصَبْرٌ عَنِ الْمَعْصِيَةِ، فَمَنْ صَبَرَ عَلَى الْمُصِيبَةِ حَتَّى يَرُدَّهَا بِحُسْنِ عَزَائِهَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ ثَلَاثَمِائَةِ دَرَجَةٍ بَيْنَ الدَّرَجَةِ إِلَى الدَّرَجَةِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ، وَمَنْ صَبَرَ عَلَى الطَّاعَةِ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ سِتَّمِائَةِ دَرَجَةٍ، مَا بَيْنَ الدَّرَجَةِ إِلَى الدَّرَجَةِ كَمَا بَيْنَ تُخُومِ الْأَرْضِ إِلَى مُنْتَهَى الْعَرْشِ، وَمِنْ صَبَرَ عَنِ الْمَعْصِيَةِ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ تِسْعَمِائَةِ دَرَجَةٍ، مَا بَيْنَ الدَّرَجَةِ إِلَى الدَّرَجَةِ كَمَا بَيْنَ تُخُومِ الْأَرْضِ إِلَى مُنْتَهَى الْعَرْشِ مَرَّتَيْنِ  

Artinya, “Sabar ada tiga tingkatan; sabar atas musibah, sabar dalam menjalani ketaatan, dan sabar dari laku kemaksiatan. Siapa saja yang sabar menghadapi musibah, sampai ia mampu merestorasinya sebaik mungkin, Allah akan mengangkat 300 derajatnya. Di mana, satu dengan lainnya berjarak sejauh antara langit dan bumi. Dan, yang bersabar dalam menjalani ketaatan, Allah mengangkat 600 derajatnya. Di mana, satu dengan lainnya berjarak sejauh antara lapisan-lapisan bumi dan batas (ketinggian) ‘arsy. Sedangkan, bagi yang bersabar dari laku kemaksiatan, Allah mengangkat 900 derajatnya. Di mana, satu dengan lainnya berjarak sekitar dua kali lipat antara lapisan-lapisan bumi dan batas (ketinggian) ‘arsy”.  

Secara klasifikasi, Imam Ali karramallahu wajhah menggolongkannya menjadi empat. Berikut redaksinya dalam as-Shabru wa Tsawâb ’alaihi (hal. 25):  

Halaman:

Editor: Ahmad Fauzi

Sumber: NU Online

Terkini

Keutamaan Puasa Arafah dan Tarwiyah

Selasa, 5 Juli 2022 | 07:25 WIB

Enam Venue Stadion Piala Dunia U-20 2023

Senin, 4 Juli 2022 | 23:38 WIB

Kawanan Begal Diringkus Polres Bogor

Senin, 4 Juli 2022 | 10:17 WIB

Kendaraan Roda Empat Terbakar di Puncak Bogor

Senin, 4 Juli 2022 | 10:11 WIB
X