• Rabu, 27 Oktober 2021

Kyai Said Aqil Siraj, Altruism, Dan Muktamar NU

- Senin, 11 Oktober 2021 | 12:45 WIB
Khotimi Bahri Wakil Ketua BKN ( Barisan Kesatria Nasional ) (Bogortimes.com)
Khotimi Bahri Wakil Ketua BKN ( Barisan Kesatria Nasional ) (Bogortimes.com)

 

Bogor times- Perhelatan Muktamar NU yang ke 34 akan digelar akhir tahun ini. Tensinya pun mulai terasa. Banyak isu-isu yang beredar menjelang perhelatan akbar Nahdlatul Ulama ini.
Yang terkini dan menjadi trend pemberitaan adalah seputar kandidat calon ketua umum mendatang. Begitu dominannya isu ini, bahkan bahsul masail yang menghasilkan tinjauan hukum terhadap daging berbasis selpun tenggelam dibawah diskursus calon nakhoda PBNU mendatang.

Tidak bisa dipungkiri, wacana yang berkembang mengarah pada saling silang kepentingan (cross cutting of interest) dan saling silang kelompok (cross cutting of community). Menyeruak opini rivalitas HMI dan PMII dalam muktamar yang akan digelar di Lampung ini. Juga mulai masuk dalam lingkaran diskursus persaingan antar kubu Golkar dan kubu PKB, juga PPP. Belum lagi faktor kedaerahan yang menyeret calon berbasis daerah, baik Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah maupun non-jawa.

Semestinya, isu berbau primordialisme ini tidak muncul atau dimunculkan menjelang muktamar kali ini, mengapa? Karena isu itu justru mengkerdilkan NU sebagai organisasi keagamaan terbesar di dunia.

Baca Juga: Rivalitas HMI dan PMII di Muktamar NU

Justru masuknya mantan aktifis HMI, PMII, dan Parpol, ke dalam rumah besar NU, akan menjadikan NU kekuatan civil society yang makin solid dan semakin diperhitungkan. Selain akan mencitrakan NU sebagai konsolidator ukhuwwah Islamiyyah dan friendly terhadap semua kadernya yang "mencari ilmu dan pengalaman" di banyak tempat justru akan memperkuat posisi NU.

Pola pikir sektarian dan primordial mengandung banyak kerugian:

Pertama, pandangan yang "membelah", tidak sesuai prinsip ukhuwwah Islam, tidak sesuai dengan sila ketiga Pancasila, Persatuan Indonesia".

Kedua, merusak kohesi dan integrasi Nasional. Alih-alih menjadi pemersatu semua anak bangsa dengan perbedaan agama, bahasa dan suku, mengelola perbedaan kecil internal saja, tak mampu mengkonsolidasi. Begitulah kesan yang akan timbul di memori Publik, bila pandangan sempit ini mendominasi cara pandang muktamirin.

Baca Juga: Ramai Pengusungan Calon Ketua PBNU, Gus Nadir : yang Muktamar NU kenapa Mereka Ikut Heboh

Halaman:

Editor: Mochammad Nurhidayat

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kerinduan Seorang Hamba Kepada Rasulullah

Senin, 18 Oktober 2021 | 14:43 WIB

Kyai Said Aqil Siraj, Altruism, Dan Muktamar NU

Senin, 11 Oktober 2021 | 12:45 WIB

Rivalitas HMI dan PMII di Muktamar NU

Jumat, 8 Oktober 2021 | 12:30 WIB

Keharaman Sholat Berjamaah, Ini Asalannya.

Jumat, 8 Oktober 2021 | 06:30 WIB

Pilih Zodiak Kamu! Mari Kita Lihat Tipe Hatimu

Sabtu, 2 Oktober 2021 | 06:00 WIB

19 Cara Rhefresh Otak Agar Tidak Lemot

Selasa, 28 September 2021 | 20:20 WIB
X