Mengenal ‘Hari Rabu’ Dalam Berbagai Perspektif

- Rabu, 5 Januari 2022 | 00:24 WIB
Hari rabu. (Bogor Times)
Hari rabu. (Bogor Times)

Bogor Times- Tidak dapat dipungkiri terdapat perspektif salah ditengah masyarakat mengenai hari Rabu sebagai hari buruk.

Hal itu termasuk jenis thiyarah (ramalan keburukan) yang diharamkan. Imam Ibnu Hajar al-Haitamy mengatakan dalam kitab Al-Minah setelah menerangkan tentang dianjurkannya bepergian di hari Senin, Kamis atau Sabtu.

Walaupun para ulama meyakini terhadap kesunahan bepergian di hari Senin, Kamis atau Sabtu merupakan bukti bahwa di hari-hari selainnya tidak ada kesunahan untuk dijadikan hari bepergian.

Baca Juga: Karena SMS, Suami Gorok Istri Hingga Tewas

Akan tetapi, hal itu tidak disebabkan oleh thiyarah (ramalan keburukan) sebagaimana yang telah dikatakan oleh ahli nujum (tukang ramal). Syekh Ibnu Jamaah berkata: Tidak ada kemakruhan bepergian di hari-hari manapun dikarenakan rembulan berada di rasi bintang Scorpio atau lainnya.

Pada suatu hari Sayyidina Ali bin Abi Thalib ditanya seseorang: Apakah engkau bertemu dengan kaum Khawarij sedangkan rembulan berada di rasi bintang Scorpio?

Lalu Ali berkata: Di mana rembulannya kaum Khawarij? Setelah itu ada seorang ahli nujum mengatakan kepadanya: Berangkatlah di saat ini, maka engkau akan memperoleh kemenangan.

Baca Juga: Alat Bukti Memadai, Habib Bahar Dijerat Pasal Berlapis

Kemudian Sayyidina Ali berkata: Rasulullah SAW tidak pernah mempercayai tukang ramal begitupun khalifah-khalifah setelahnya, dan beliau juga berhujjah dengan beberapa ayat Al Qur’an.

Lalu Ali melanjutkan perkataannya: Barangsiapa yang membenarkan ucapanmu (tukang ramal), maka dia seperti mencari perlindungan kepada selain Allah SWT. Ya Allah, tidak ada thiyarah kecuali kehendak-Mu, tiada kebaikan kecuali dari Engkau. Aku tak akan mempercayaimu (tukang ramal) dan aku akan berperang di hari yang engkau larang.

Setelah itu Ali berpidato di hadapan ribuan rakyatnya: Wahai rakyatku, jauhkanlah diri kalian dari belajar ilmu nujum (astronomi) kecuali hanya sekadar sebagai petunjuk kegelapan di daratan dan lautan, ketauhilah sesungguhnya tukang ramal itu seperti orang kafir.
Baca Juga: Kembali, Gunung Ili Lewotolok Meletus, Magma Indonesia Imbau Masyarakat
 Sayyidina Ali juga mengancam apabila mereka tidak mau bertobat, maka akan kekal berada di neraka dan tidak akan mendapatkan ampunan. Akhirnya, Ali berangkat berperang melawan kaum Khawarij di hari yang dilarang oleh tukang ramal tersebut, ternyata diberi kemenangan oleh Allah SWT. Peristiwa itu dikenal dengan pertempuran an-Nahrawan yang kedua.

 Imam Ibnu Rusydi mengutip bahwa raja Malik (khalifah Mu’tashim bin Harun ar-Rasyid) tidak pernah membenci hari dari beberapa hari yang ada. Bahkan mengistimewakan hari Rabu dan Sabtu.

Tujuannya hanyalah untuk menolak atau menepis anggapan akan ramalan keburukan yang terjadi di kedua hari tersebut. Pernah suatu ketika hendak mengadakan peperangan di hari tertentu, ada beberapa tukang ramal yang melarangnya untuk tidak berperang di hari tersebut. Akan tetapi, tidak mengindahkan larangan tersebut. Ternyata berkat pertolongan Allah SWT, mendapatkan kemenangan dan harta jarahan (ghanimah) yang banyak.
Baca Juga: Remaja 17 Tahun Diduga Korban Pembunuhan, Ditemukan di PTPN VIII Rajamandala
Kebanyakan manusia meramalkan akan keburukan pada hari Rabu terakhir di setiap akhir bulan. Mereka meninggalkan pekerjaannya untuk kamaslahatan dirinya. Mereka bertendensi dengan sebuah hadits yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:

آخِرُ أَرْبِعَآءَ فِي الشَّهْرِ يَوْمٌ نَحِسٌ مُسْتَمِرٌّ

Artinya: Rabu yang terakhir di setiap bulan merupakan hari sial.
Baca Juga: 162 Kasus Omicro, Pemprov Waspada Pejalan Luar Negeri
Imam as Sakhawi mengatakan bahwa riwayat hadits di atas dlaif (lemah). Jika mengandaikan bahwa hadits itu shahih, maka arti dari hadits adalah hari Rabu yang terakhir di setiap bulan merupakan hari sial bagi orang yang meyakini. Sedangkan bagi orang yang meyakini bahwa hari Rabu tersebut tidak berdampak apapun dan tidak dapat membahayakan kecuali karena kehendak Allah SWT semata, maka bukan merupakan hari sial baginya.

Di salah satu hadits, ada yang menjelaskan keistimewaan atau keutamaan hari Rabu dibandingkan hari lain. Di dalam kitab Syu’ab al-Iman milik Imam al-Baihaqy dijelaskan bahwa Rasulullah pernah bersabda:

إِنَّ الدُّعَآءَ يُسْتَجَابُ يَوْمَ الْأرْبِعَآءِ بَعْدَ الزَّوَالِ
Baca Juga: 162 Kasus Omicro, Pemprov Waspada Pejalan Luar Negeri
Artinya: Sesungguhnya doa akan dikabulkan di hari Rabu setelah tergelincirnya matahari.

Dan di dalam hadits yang diriwayatkan sahabat Jabir RA dijelaskan bahwa:

إِنَّ النَّبِيَّ e أَتَى مَسْجِدَ الْأَحْزَابِ يَوْمَ الْإِثْنَيْنِ وَيَوْمَ الثُّلَاثَآءِ وَيَوْمَ الْأَرْبِعَآءِ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ, فَوَضَعَ رِدَآءَهُ فَقَامَ فَرَفَعَ يَدَيْهِ يَدْعُوْ عَلَيْهِمْ أَيِ الْكُفَّارِ فَرَأَيْنَا الْبِشْرَ فِي وَجْهِهِ

 Artinya: Pernah suatu ketika Rasulullah SAW mendatangi masjid al-Ahzab di hari Senin, Selasa dan Rabu di antara waktu Dhuhur dan Ashar. Kemudian meletakkan selendangnya, lalu berdiri dan mengangkat kedua tangannya sambil mendoakan supaya orang-orang kafir mendapatkan siksa. Kemudian saya melihat nampak wajah gembira dari raut wajah Nabi.
Baca Juga: Kembali, Gunung Ili Lewotolok Meletus, Magma Indonesia Imbau Masyarakat
Pengarang kitab al-Hidayah menjelaskan bahwa hal-hal yang dimulai hari Rabu tiada balasan kecuali kesempurnaan dan merupakan suatu hari dimana Allah SWT menciptakan cahaya (nur). Imam ad-Dailamy meriwayatkan hadits marfu’ dari sahabat Jabir RA bahwa Rasulullah pernah bersabda:

مَنْ غَرَسَ الْأَشْجَارَ يَوْمَ الْأَرْبِعَآءِ وَقَالَ سُبْحَانَ الْبَاعِثِ الْوَارِثِ أَتَتْ أُكُلُهَا

Artinya: Barangsiapa menanam pepohonan di hari Rabu dan berdoa: سُبْحَانَ الْبَاعِثِ الْوَارِثِ maka akan bisa berbuah.

Dikutip dari Imam Khalimi bahwa berkata: Saya meyakini dari keterangan-keterangan syariat Islam bahwa sebagian hari-hari itu ada kesialan maupun keberuntungan, tetapi di setiap kesialan pasti ada keberuntungan.

Hari laksana manusia, ada yang celaka juga ada yang beruntung. Akan tetapi yang terpenting adalah asumsi seseorang bahwa hari dan bintang dapat membuat sial atau bahagia pada seseorang adalah batal atau salah besar. Begitupun pendapat yang mengatakan bahwa bintang terkadang menjadi penyebab adanya kebaikan dan keburukan adalah pendapat yang keliru karena kesemuanya yang terjadi di dunia ini hanyalah murni kehendak Allah semata, tanpa ada campur tangan dari siapapun.

Halaman:

Editor: Usman Azis

Artikel Terkait

Terkini

Pemilu dan Demokrasi

Rabu, 16 Maret 2022 | 07:58 WIB

Tiga Shio Terbaik Di 2022 Mempunyai Nasib Beruntung

Kamis, 3 Februari 2022 | 11:03 WIB

Ferdinan Hutahaean dan Tumbal Politik Identitas

Kamis, 20 Januari 2022 | 13:18 WIB

Perkembangan Ekonomi Kreatif di Indonesia

Minggu, 16 Januari 2022 | 08:55 WIB

Mengenal ‘Hari Rabu’ Dalam Berbagai Perspektif

Rabu, 5 Januari 2022 | 00:24 WIB

Catatan Hati Seorang Guru

Jumat, 26 November 2021 | 02:53 WIB

Hakikat Prestasi Dalam Worldview Islam

Sabtu, 20 November 2021 | 23:09 WIB

Islam Dan Nasionalisme

Kamis, 18 November 2021 | 19:45 WIB

Lima Sebab dan Tiga Cara Menuntut Ilmu

Kamis, 18 November 2021 | 19:00 WIB

12 Zodiak Dari yang Penurut Sampai Pemberontak

Selasa, 9 November 2021 | 10:59 WIB
X