• Minggu, 28 November 2021

Hakikat Prestasi Dalam Worldview Islam

- Sabtu, 20 November 2021 | 23:09 WIB
Lalu Muhammad Zohri (Instagram  @ lalu_muhammad_zohri_account)
Lalu Muhammad Zohri (Instagram @ lalu_muhammad_zohri_account)

Bogor Times - Lalu Muhammad Zohri, pelari tercepat di dunia yang berhasil membawa pulang emas dalam kejuaraan dunia International Association of Athletics Federations (IAAF) U20, di Tampere, Finlandia, pada 11 Juli 2018. Dua siswa Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) di Sumatera Selatan meraih penghargaan pada final kompetisi matematika pelajar tingkat dunia di Seoul, Korea Selatan, 14-17 Juli 2018.

Lauhin Mahfudz, mahasiswa kelahiran Aceh Tengah, mengukir sejarah dan mengharumkan nama Indonesia dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Internasional. Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi menawari beasiswa S2 kepada Rifdah Farnidah yang merupakan penghafal Al-Qur’an yang baru saja meraih peringkat 2 Musabaqah Hifzhil Qur’an (MHQ) di Amman, Yordania.

Sebelum meraih prestasi Internasional, Rifdah merupakan juara 1 MTQ tingkat nasional golongan 5 juz di Kalimantan Barat 2012, juara 1 MTQ Nasional golongan 10 juz di Nusa Tenggara Barat 2016 dan juara 1 MTQ Nasional golongan 30 juz di Kalimantan Barat 2017.

Prestasi yang diraih anak-anak bangsa ini tentu sangat membanggakan. Tetapi satu hal yang tidak boleh kita lupakan yaitu cara pandang kita terhadap hakikat prestasi itu sendiri. Para pemuda dan kita sebagai pendidik khususnya haruslah melihat hakikat prestasi itu dari sudut pandang (worldview) agama kita yaitu Islam.

Baca Juga: Hadapi Persija Jakarta, Persib Bandung Dapat Dukungan Dari Michael Essien

Hal ini penting, agar kita tidak terjebak dengan apa yang disebut diploma disease, di mana keberhasilan itu hanya diukur dengan angka-angka.

Konsepsi Islam adalah keseimbangan antara prestasi dunia dan akhirat. Bahkan prestasi dunia adalah untuk prestasi di akhirat. Sebagaimana Isyarat Allah dalam Al-Qur’an, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi… (Q.S. Al-Qashash: 77).

Kata “carilah” dan “jangan lupakan” menunjukkan bahwa kepentingan akhirat jauh lebih penting dari pada kepentingan dunia. Berbeda dengan pandangan Barat, prestasi hanya diukur dari hasil yang nampak. Jika Nampak hasilnya adalah prestasi, jika tidak terwujud sesuai harapan, target dan sasaran maka disebut dengan gagal, tidak berprestasi.

Baca Juga: Demi Gagalkan Demo Mahasiswa, Pihak PT Jaya Semanggi Engineering Ancam Bawa Tentara

Halaman:

Editor: Muhammad Syahrul Mubarok

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Catatan Hati Seorang Guru

Jumat, 26 November 2021 | 02:53 WIB

Hakikat Prestasi Dalam Worldview Islam

Sabtu, 20 November 2021 | 23:09 WIB

Islam Dan Nasionalisme

Kamis, 18 November 2021 | 19:45 WIB

Lima Sebab dan Tiga Cara Menuntut Ilmu

Kamis, 18 November 2021 | 19:00 WIB

12 Zodiak Dari yang Penurut Sampai Pemberontak

Selasa, 9 November 2021 | 10:59 WIB

Kerinduan Seorang Hamba Kepada Rasulullah

Senin, 18 Oktober 2021 | 14:43 WIB
X