Menonaktifkan Rektor UNUSIA Apakah Hanya Penenang Untuk Mahasiswa UNUSIA?

- Senin, 20 November 2023 | 13:28 WIB

 

Bogor Times Jakarta 16/11/2023 rektor Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Juri Ardiantoro mengajukan status nonaktif sebagai rektor UNUSIA, tidak dijelaskan secara detail kenapa Bapak Juri Ardiantoro mengajukan status nonaktif, pengajuan tersebut di terima dan diputuskan dalam rapat senat unusia 16 November 2023, akhirnya Juri Ardiantoro di nonaktifkan sebagai rektor dan penggantinya sebagai pelaksana harian rektor yaitu Dr. H Syahrizal Syarif, MPh. Ph.D.

Pada selasa 06 November 2023 kemarin Juri Ardiantoro secara resmi mengundurkan diri secara tertulis dari Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Deputi IV bidang informasi dan komunikasi publik dengan alasan netralitas pada Aparatur Sipil Negara (ASN)

Sehari setelah mendengar hal itu saya merasa aneh jika mantan KSP Juri Ardiantoro mengundurkan diri karena alasan netralitas ASN, padahal beliau adalah rektor unusia, yang dimana perguruan tinggi merupakan tempat yang harus di jaga juga netralitas nya, tapi beberapa hari perlu strategi, akhirnya Juri Ardiantoro mengajukan permintaan nonaktif sebagai rektor, apakah tindakan yang benar?

Tindakan yang dibuat oleh pihak UNUSIA dengan menerima permintaan status nonaktifkan rektor sebelumnya yakni Juri Ardiantoro itu seperti apa kata Marx hanya opium atau penenang saja bagi mahasiswa, hal ini karena penonaktifkan rektor tersebut tidak secara permanen, Syahrizal Syarif dinaikan sebagai pelaksana harian, bagi saya hanya tumbal supaya mulus jalan bagi Juri Ardiantoro, karena ketika pemilu ini usai Juri Ardiantoro akan mengajukan kembali ke aktifan dia sebagai rektor dan ini merupakan skenario agar mulus jalan nya sebagai Tim Kampanye Nasional Prabowo Gibran.

Sampai hari ini mungkin terlihat efektif karena tidak ada tuntutan dan tulisan, yang menyinggung masalah krusial ini selain tulisan ini, seharusnya Badan Eksekutif Mahasiswa muncul disini untuk mengkritisi hal ini bukan terjerumus pada ketenangan yang dimainkan oleh segerombolan orang.

Jika sudah seperti ini bukan hanya bicara tentang netralitas yang ada di perguruan tinggi dengan jalan yang hanya menonaktifkan rektor saja, rektor bukan secara permanen keluar dari unusia, ia hanya beristirahat dan memfokuskan diri untuk menjadi TKN, alih-alih mengundurkan diri sebagai TKN malah memilih menonaktifkan rektor, memang itu hak prerogratif memilih yang mana entah TKN atau rektor, tapi jika memilih salah satu dari itu harus ikhlas, jangan memilih TKN tapi ada petugas harian rektor yang artinya petugas definitif nya berhalangan karena pemilu nya belum usai.


Kontributor : Zulkipli Ikhsan (mahasiswa sosiologi UNUSIA)

Editor: Rajab Ahirullah

Sumber: unusia.ac.id

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Wajah Baru Calon Bupati, Decan :Saya Siap Maju

Rabu, 20 Maret 2024 | 23:38 WIB

Terpopuler

X