Merawat Jagat dan Peradaban, Yosi Ridwan: Berkhidmat dengan Cinta

- Selasa, 31 Januari 2023 | 20:37 WIB
Aktifis NU Kabupaten Bogor Yosi  (Mam/Bogor Times)
Aktifis NU Kabupaten Bogor Yosi (Mam/Bogor Times)

Bogor Times- Kita para pemuda Nahdlotul Ulama berstatus sebagai santri para ulama.

Tentunya penting bagi kita menjawab pertanyaan Bagaimana para kiai, para aktivis yang mengabdikan dirinya dalam kerelawanan hidup dan menghidupi keluarganya? percayalah cinta kan membawa kepada rejeki yang tidak terduga. Salahkah mereka yang tidak percaya pada kerelawanan? Tentu saja tidak salah. Namun, bagi yang tidak percaya pada kerelawanan, NU berarti bukan ruang yang tepat untuk mereka.

Jagat dan peradabannya dirawat dan dibangun atas dasar kerelawanan (voluntary) para syuhada yang berjuang, berkarya karena nilai-nilai yang diyakini.

Baca Juga: Pemuda Kecanduan Judi Online
Empat tahun lagi Nahdlatul Ulama (NU) genap 100 tahun. Satu abad ini dan berabad-abad berikutnya NU sudah, sedang, dan akan terus menyediakan pilihan nilai yang berguna untuk jagat yang penuh rahmah.
Tinggal tergantung kita dan generasi mendatang: seteguh apa kita dan generasi mendatang menjaga semangat kerelawanan untuk menjalankan nilai-nilai yang diajarkan NU.


Hadratus Syaikh KH Hasyim Asyari sudah merumuskan bagaimana kerelawanan dan perkhidmatan harus dilakukan yakni dengan penuh kecintaan, kasih sayang, rukun, bersatu dan dengan ikatan jiwa raga yang kuat.


Begitulah kemudian NU dirintis dan dikembangkan. KH Wahab Hasbullah melakukan perkhidmatan atau kerelawanan dengan lebih sering bersilaturrahim kepada kiai-kiai di Nusantara untuk memperkenalkan NU dan mengajak para kiai bergabung daripada di pesantren.

Baca Juga: Kapolres Bogor Pastikan Penculikan Anak di Gunung Sindur Hoaks
Begitu pula Gus Dur yang seluruh hidupnya diserahkan untuk menjadi relawan kemanusiaan, kebudayaan, dan sosial. Demikian juga dengan Ajengan Ilyas Ruhiat Cipasung yang mengabdikan dirinya untuk NU dan mengajar.


Mbah Yai Wahab, Gus Dur, Ajengan Ilyas dan banyak lagi para kiai dan aktivis NU bergerak berdasarkan nilai yang dirumuskan Mbah Hasyim dalam Qonun Asasi: dengan cinta, kasih sayang, rukun, bersatu dan dengan ikatan jiwa raga yang kuat.


Nilai-nilai yang akan makin sering kita dengar ke depannya dengan Gus Yahya sebagai nakhoda. NU, menurut Gus Yahya, jangan menjadi bandul polarisasi tetapi harus menjadi bandul perdamaian. Dalam konteks global, NU harus menjadi inspirasi peradaban baru dunia.

Baca Juga: Buat Pelatihan SPSS, HIMA Akuntansi Komitmen Dorong Mahasiswa UNUSIA Lulus Tepat Waktu
Jika ada pertanyaan bagaimana para kiai, para aktivis yang mengabdikan dirinya dalam kerelawanan hidup dan menghidupi keluarganya? percayalah cinta kan membawa kepada rejeki yang tidak terduga. Salahkah mereka yang tidak percaya pada kerelawanan? Tentu saja tidak salah. Namun, bagi yang tidak percaya pada kerelawanan, NU berarti bukan ruang yang tepat untuk mereka.****

Editor: Imam Shodiqul Wadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

5 Doa Pilihan yang Cocok Dibaca Selama Ramadhan

Sabtu, 6 April 2024 | 06:00 WIB

Gudang Peluru Meledak, Musibah Atau Rekayasa?

Sabtu, 30 Maret 2024 | 23:41 WIB

Berani, Pengusaha Ilegal Tantang Camat Cariu

Sabtu, 30 Maret 2024 | 06:00 WIB
X