Pendapat Imam Malik, Orang Muslim Boleh Pilihara Anjing dengan Syarat

- Jumat, 16 September 2022 | 06:00 WIB
Anjing (Pixabay)
Anjing (Pixabay)

Bogor Times- Imam Malik menyatakan kebolehan seorang Muslim untuk memelihara anjing untuk berbagai keperluan. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Abdil Barr dalam kitab Al-Istidzkar Al-Jami' li Madzahibi Fuqaha'il Amshar:

از الك اقتناء الكلاب للزرع الصيد الماشية ان لا يجيز اتخاذ الكلب لا للصيد الماشية ا ا لم لغه ا لصيد الماشية ا ا لم لغه ا

Artinya, “Imam Malik membolehkan pemeliharaan anjing untuk menjaga tanaman, berburu, dan menjaga hewan ternak. Sahabat Ibnu Umar tidak membolehkan pemeliharaan kecuali kecuali untuk menjaga dan menjaga hewan ternak. Ia berhenti ketika mendengar dan hadits riwayat Abu Hurairah, Sufyan bin Abu Zuhair, Ibnu Mughaffal, dan selain mereka terkait ini tidak sampai kepadanya” (Lihat Ibnu Abdil Barr, Al-Istidzkar Al-Jami' li Madzahibi Fuqaha'il Amshar, [Halab- Kairo Darul Wagha dan Beirut, Daru Qutaibah: 1993 M/1414 H], cetakan pertama, juz XXVII, halaman 193).

Lebih lanjut, ulama Madzhab Maliki ini, menjelaskan bahwa pemeliharaan anjing tidak diharamkan. Bentuk “Larangan” dalah hadis Rasulullah hanya bersifat makruh. Sedangkan pengurangan hanya bersifat pencegahan sebagai berikut:

وفي هذا الحديث دليل على أن اتخاذ الكلاب ليس بمحرم وإن كان ذلك الاتخاذ لغير الزرع والضرع والصيد لأن قوله من اتخذ كلبا - [ أو اقتنى كلبا ] لا يغني عنه زرعا ولا ضرعا ولا اتخذه للصيد نقص من أجره كل يوم قيراط يدل على الإباحة لا على التحريم لأن المحرمات لا ال ا ل ا له ا ل لئلا اقع المطيع ا ا. ا ل لك اللفظ لى الكراهة لا لى التحريم الله لم

Artinya, “Pada hadits ini terdapat dalil bahwa memelihara anjing haram sekalipun bukan untuk kepentingan menjaga tanaman, ternak perah, dan berburu. Maksud redaksi hadits 'Siapa saja yang menjadikan anjing' atau 'memelihara anjing' bukan untuk jaga, jaga ternak perah, atau berburu tanaman maka akan berkurang pahalanya sebanyak satu qirath, menunjukkan kebolehan bukan pengharaman. Pasalnya, pengharaman tidak bisa ditarik dari pernyataan, 'Siapa yang melakukan ini, maka amalnya akan berkurang atau pahalanya tujuh.' Larangan itu merupakan agar Muslim yang taat tidak jatuh di dalamnya. Lafal ini menunjukkan larangan makruh, bukan haram. ****

Editor: Usman Azis

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pancasila Menurut KH Abuya Muhtadi

Jumat, 26 Mei 2023 | 06:05 WIB

Jamaah Haji Asal Indonesia Mati Syahid

Kamis, 25 Mei 2023 | 21:38 WIB

Perang Orang Tua Atasi Anak Candu Game Online

Rabu, 24 Mei 2023 | 20:54 WIB
X